<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6976143189040505183</id><updated>2012-02-15T23:34:53.091-08:00</updated><category term='Intelejen dan Islam Radikal'/><category term='Penyusup dari Telik Sandi Negara'/><category term='Awas BIN Obok-obok Gerakan Islam'/><title type='text'>Intelejen dan Islam Radikal</title><subtitle type='html'>Benang kusut gerakan-gerakan Islam di Indonesia</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://intel-islam-radikal.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6976143189040505183/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://intel-islam-radikal.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>abasyah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06239836891963840643</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_3-hb0NT8tZk/R7r8YpiOtAI/AAAAAAAAAFw/-CUxsux8d9E/S220/images.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>3</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6976143189040505183.post-3861007801709543914</id><published>2009-01-02T10:20:00.000-08:00</published><updated>2009-01-02T10:27:55.556-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Awas BIN Obok-obok Gerakan Islam'/><title type='text'>Awas, BIN Obok-obok Gerakan Islam</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Untuk melumpuhkan gerakan Islam, Badan Intelijen Negara (BIN) tidak segan-segan menyusup ke dalam kelompok-kelompok Islam yang dianggap radikal. BIN akan meng-obok-obok kelompok ini dan menciptakan konflik internal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu disampaikan Kepala BIN Syamsir Siregar dalam raker Komisi I DPR RI dengan jajaran Menko Polhukam di Gedung MPR/DPR, Jalan Gatot Soebroto, Jakarta, Senin (28/11/2005).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita melakukan penetrasi kepada kelompok-kelompok Islam radikal dengan cara melakukan penyusupan internal untuk membuat konflik," ungkap Syamsir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kelompok mana yang sudah diincar BIN, Syamsir menolak menyebutkan. "Itu rahasia kami, nggak usahlah kalian tahu. Kalau tahu bukan intelijen lagi nanti," kata dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyusupan ke kelompok-kelompok Islam radikal merupakan salah satu strategi BIN dalam melumpuhkan jaringan terorisme di dalam negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Syamsir, BIN memiliki enam strategi untuk mewujudkan hal itu, yakni penguatan supremasi hukum dengan membentuk UU Anti Terorisme, independensi dari intervensi asing, koordinasi dengan komunitas intelijen lainnya, penguatan demokrasi, partisipasi masyarakat, dan indiskriminasi yang mengarah pada SARA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari enam strategi itu, BIN akan meningkatkan strategi koordinasi dengan komunitas intelijen dengan mengikutsertakan dai yang moderat dalam sosialisasi pemahaman agama, menyebarkan buku-buku Islam yang benar dan penetrasi terhadap kelompok Islam radikal tadi.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6976143189040505183-3861007801709543914?l=intel-islam-radikal.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://intel-islam-radikal.blogspot.com/feeds/3861007801709543914/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://intel-islam-radikal.blogspot.com/2009/01/awas-bin-obok-obok-gerakan-islam.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6976143189040505183/posts/default/3861007801709543914'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6976143189040505183/posts/default/3861007801709543914'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://intel-islam-radikal.blogspot.com/2009/01/awas-bin-obok-obok-gerakan-islam.html' title='Awas, BIN Obok-obok Gerakan Islam'/><author><name>abasyah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06239836891963840643</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_3-hb0NT8tZk/R7r8YpiOtAI/AAAAAAAAAFw/-CUxsux8d9E/S220/images.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6976143189040505183.post-3468003394026357792</id><published>2009-01-02T09:59:00.000-08:00</published><updated>2009-01-02T10:28:32.882-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Penyusup dari Telik Sandi Negara'/><title type='text'>Penyusup dari Telik Sandi Negara</title><content type='html'>Sebuah buku berjudul Konspirasi Gerakan Islam &amp;amp; Militer di Indonesia yang melaporkan keterlibatan intelijen dalam jaringan Islam radikal. Masih butuh verifikasi ulang.  (lihat: Konspirasi INTEL &amp;amp; Islam Radikal)&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Kerusuhan Ambon, Maluku, telah merenggut ribuan nyawa manusia. Salah seorang di antaranya bernama Abu Jihad alias Tengku Fauzi Hasbi. Lelaki asal Aceh ini tewas secara misterius pada 22 Februari 2003, bersama dua kawannya Edy Saputra dan Ahmad Syaridup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_3-hb0NT8tZk/SV5Xu963jZI/AAAAAAAAAK8/aMg4ksEFZPw/s1600-h/Bin-Abu_Jihad-1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 150px; height: 180px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_3-hb0NT8tZk/SV5Xu963jZI/AAAAAAAAAK8/aMg4ksEFZPw/s320/Bin-Abu_Jihad-1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5286759476986613138" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Abu Jihad, diculik dari hotel Nisma di Waihaong, Ambon, oleh orang tak dikenal. Ketiganya telah dibunuh pada cara sadis. Mayatnya disembunyikan di bawah tanah tidak jauh dari Akademi Islam STAIN, Kebun Cengkeh, Ambon. Pada 21 Mei 2003 delapan orang ditangkap oleh polisi sebagai tersangka dalam kasus ini, di antaranya seorang intel polisi bernama Mohamad Syarif Tarabubun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelaku utama gerombolan itu, bernama Herumanto alias Yanto, mengantar polisi ke tempat ketiga jenazah dikuburkan. Kemudian diadakan penggalian, dan ketiga jenazah itu diserahkan kepada keluarga di Medan dan Jakarta. Walaupun kepada polisi Yanto nyatakan bahwa motivasi pembunuhan itu adalah untuk mendapatkan uang (dan memang, melalui ATM di BCA Yanto tarik 48 juta rupiah dari rekening Abu Jihad –sekaligus mengekspose pelakunya), namun diduga bahwa alasan utama pembunuhan ini ialah pertentangan intern dalam organisasi Jamaah Islamiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_3-hb0NT8tZk/SV5X-bslGUI/AAAAAAAAALE/HiYDjz0krjY/s1600-h/sydney_jones3-3.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 95px; height: 144px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_3-hb0NT8tZk/SV5X-bslGUI/AAAAAAAAALE/HiYDjz0krjY/s320/sydney_jones3-3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5286759742677784898" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Sydney Jones dari International Crisis Group dalam laporannya 11 Desember 2002, “Indonesia Backgrounder: How The Jemaah Islamiyah Terrorist Network Operates,” menyebut Abu Jihad sebagai ketua Jemaah Islamiyah (JI) Asia Tenggara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi putera Abu Jihad Lamkaruna mengaku bahwa tidak ada hubungan antara ayahnya dengan organisasi JI. Ayahnya adalah pejuang untuk Aceh Merdeka, dan datang ke Ambon dalam rangka perdagangan cengkeh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Siapakah Abu Jihad sebenarnya&lt;/span&gt;?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sekitar Mei tahun 1999 atas prakarsa Badan Intelijen Negara (BIN) Abu Jihad dan beberapa elite faksi NII (Negara Islam Indonesia) yang berlainan, antara lain faksi Ajengan Masduki, faksi Tahmid, faksi Abu Toto menggelar Syuro terbatas untuk rekonsiliasi NII, yang diselenggarakan di Cisarua, Bogor, Agustus 1999. Itulah laporan dari buku berjudul Konspirasi Gerakan Islam &amp;amp; Militer di Indonesia, yang disunting oleh sosiolog George Junus Aditjondro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku tersebut dituliskan bahwa Abu Jihad adalah anggota TNI (Tentara Nasional Indonesia) yang dipekerjakan di BIN, untuk menyusup ke GAM dan beberapa gerakan Islam radikal. Dari surat-surat yang didapat FORUM, Abu Jihad memang ditugaskan untuk tugas-tugas rahasia tersebut. Surat tersebut datang dari BIN dan Kodam Bukit Barisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, soal kematiannya pun, ada yang menduga dihabisi oleh sesama intel karena tugasnya sebagai intel sudah selesai pula.&lt;br /&gt;Kasus Abu Jihad, hanyalah salah satu sosok tentang penyusupan intel dalam tubuh organisasi Islam radikal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_3-hb0NT8tZk/SV5YYwSAEpI/AAAAAAAAALM/mj6sCpYXwz8/s1600-h/abdul_haris.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 140px; height: 182px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_3-hb0NT8tZk/SV5YYwSAEpI/AAAAAAAAALM/mj6sCpYXwz8/s320/abdul_haris.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5286760194880049810" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Sosok lain adalah Abdul Haris yang pernah ditangkap pada 2002 di Bogor bersama Umar Al-Faruq. Umar dianggap dalang dalam serangkaian aksi kekerasan di tanah air. Dia kemudian di bawa ke Baghram, Afghanistan, setelah sebelumnya dipenjara di Guantanamo, Kuba. Tapi yang mengagetkan, justeru Abdul Haris malah dilepas. Bahkan, ketika tim penyelidik Mabes Polri ditugaskan untuk menginterogasi Umar, Haris bersama Benny Mamoto dan Gories Mere dari Mabes Polri ikut ke sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena perannya sebagai intel bocor, maka lelaki yang kini tinggal di Ciputat tersebut, telah berganti nama dengan Ahmad Harris dan tidak pernah dimunculkan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model penyusupan seperti ini sudah lama diarsiteki oleh almarhum Ali Moertopo di era Orde Baru dan kemudian dilanjutkan oleh Benny Moerdani. Rekayasa kooptasi intelejen seperti ini, sebenarnya berjalan sangat telanjang, namun kondisi kelemahan di seluruh segi yang dimiliki ummat Islam justru sangat dominan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut laporan yang tidak diterbitkan ini, keberhasilan menjadikan pecundang para laskar NII sejak tahun 1975 hingga sekarang menjadi bukti akurat adanya kontrol kuat tangan militer-intelejen terhadap gerakan NII tersebut. Dari seluruh rekayasa politik dan operasi intelejen tersebut boleh dikata tak ada yang gagal satu pun. Dalam waktu yang bersamaan pihak intelejen-militer juga berhasil membina dan menyusupkan Hasan Baw dan Prof Parmanto ke dalam gerakan Warman yang saat itu bersama-sama dengan Abdullah Umar dan Farid Ghazali tahun 1978-1979, yang juga melakukan gerakan radikal. Parmanto berhasil dieksekusi Abdullah Umar dan Bambang Sispoyo, melalui modus perampokan, sedang Hasan Baw berhasil dieksekusi Farid Ghazali, Farid sendiri akhirnya tewas oleh aparat tahun 1982.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1981 BAKIN (Badan Koordinasi Intelijen Negara) menyusupkan satu anggota kehormatan intelnya, (berasal dari kesatuan Batalyon Artileri Medan-Yon Armed) bernama Najamuddin ke dalam gerakan Jama’ah Imran, melalui aksi provokasi dengan menyerahkan setumpuk dokumen rahasia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara ini dilanjutkan oleh intel Najamuddin dengan merekayasa aksi radikal ekstrem dalam wujud kekerasan bersenjata oleh kelompok ini. Modal awal senjata kelompok ini pun hasil pemberian Najamuddin, dan terjadilah penyerangan terhadap Polsek Cicendo, Bandung. Kemudian berlanjut dengan aksi pembajakan pesawat DC-9 Garuda Woyla di Thailand, setelah sebelumnya kelompok ini menghabisi nyawa Najamuddin, yang tercatat resmi sebagai anggota intelejen BAKIN tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penumpasan aksi pembajakan ini ditangani langsung oleh Benny Moerdani yang kemudian mencuatkan namanya ke pentas perpolitikan di tanah air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1986 intelijen berhasil kembali menyusupkan agen sipilnya Syahroni dan Syafki mantan preman Blok M, Jakarta Selatan, dalam gerakan Usrah NII pimpinan Ibnu Thayib yang menghasilkan lebih 15 orang NII masuk penjara. Pada tahun 1988, terhitung kurang lebih satu tahun menjelang meledaknya kasus Cihideung, Talangsari Way Jepara, Lampung, salah satu kader intelijen militer yang bertugas di Kodam Jaya Letkol. Hendropriyono mempersiapkan proyek rekayasa intelejen tersebut seraya mengingatkan kepada beberapa komunitas kelompok gerakan agar jangan ada yang ikut terlibat ke Lampung, karena ia telah diperintahkan untuk melibas tandas gerakan tersebut, setelah kelak menjadi Komandan Korem Garuda Hitam, Lampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1986 pihak intelijen juga merekrut kembali Prawoto alias Abu Toto, kader muda NII bentukan Ali Murtopo yang sedang buron dan berada di negeri bagian Sabah Malaysia. Tujuannya, untuk disusupkan kembali ke dalam gerakan NII LK (Lembaga Kerasulan) pada tahun 1987, pada saat itu di bawah kepemimpinan Abdul Karim Hasan. Masuknya kembali Abu Toto ternyata berhasil mempengaruhi dan meyakinkan Abdul Karim Hasan untuk kembali kepada manhaj NII sekaligus menggerogoti dan membusukkan kultur, doktrin struktur organisasi dan sistem kewilayahan NII. Momentum kembalinya Abu Toto sejak tahun 1987 inilah akhirnya menyegarkan gerakan NII kooptasi intelejen untuk bangkit sekaligus mempercepat terjadinya perpecahan dalam struktur NII secara besar-besaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, gerakan JI di Indonesia (menurut Kepala Desk Antiteror Menkopolhukham Ansyaad Mbai, berasal dari NII) diduga banyak dikaitkan dengan aksi bom di tanah air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa nama mencuat seperti Zulkarnaen alias Arif Sunarso dan Hambali yang merupakan elite tertinggi dalam struktur JI faksi tersebut. Struktur di atas Hambali dan Zulkarnaen sebagai koordinator juga masih ada lagi, yaitu nama Abdul Haris dan Abu Jihad. Keduanya berasal dari komunitas Badan Intelejen Negara, Abdul Haris tercatat masih resmi sebagai anggota organik BIN yang disusupkan ke dalam inner circle struktur NII atau JI pimpinan Abdullah Sungkar dan Abubakar Ba’asyir di Malaysia sejak 1991, sementara Abu Jihad tercatat resmi sebagai agen binaan Militer dan Intelejen sejak 1978 yang juga mampu menempel ketat jama’ah Abdullah Sungkar - Abubakar Ba’asyir di Malaysia sejak 1986, namun tragis, Abu Jihad berhasil dihabisi secara canggih di Ambon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Azahari dan Noordin Mohamad Top yang berada dalam struktur JI faksi Hambali-Zulkarnaen hanya berperan sebagai tim ahli –ahli di bidang peracikan bom, sementara posisi Imam Samudra, Dulmatin, Mukhlas, dan kawan-kawan adalah sebagai tim pelaksana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini juga mempertanyakan jika sikap, tekad dan kemampuan Polri yang hanya diarahkan untuk menangkap dan menindak jaringan para pelaku terror bom di sektor bawah. Buku yang kaya dengan data ini, mengaku hasil olah lapangan dengan wawancara ke berbagai narasumber. Penerbitnya, Centre for Democracy and Social Justice Study (CeDSos), masih belum mau menerbitkan dengan alasan yang kurang jelas.&lt;br /&gt;IMAN FIRDAUS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : FORUM KEADILAN: No. 31, 4 Desember 2005, hal. 21-22.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Fotocopy Surat Tugas Abu Jihad dari BIN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_3-hb0NT8tZk/SV5Y2SkfDYI/AAAAAAAAALU/4YS6tyL9Dy4/s1600-h/Bin-Fauzi_Hasbi-b.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 517px; height: 667px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_3-hb0NT8tZk/SV5Y2SkfDYI/AAAAAAAAALU/4YS6tyL9Dy4/s320/Bin-Fauzi_Hasbi-b.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5286760702300589442" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6976143189040505183-3468003394026357792?l=intel-islam-radikal.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://intel-islam-radikal.blogspot.com/feeds/3468003394026357792/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://intel-islam-radikal.blogspot.com/2009/01/penyusup-dari-telik-sandi-negara.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6976143189040505183/posts/default/3468003394026357792'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6976143189040505183/posts/default/3468003394026357792'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://intel-islam-radikal.blogspot.com/2009/01/penyusup-dari-telik-sandi-negara.html' title='Penyusup dari Telik Sandi Negara'/><author><name>abasyah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06239836891963840643</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_3-hb0NT8tZk/R7r8YpiOtAI/AAAAAAAAAFw/-CUxsux8d9E/S220/images.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_3-hb0NT8tZk/SV5Xu963jZI/AAAAAAAAAK8/aMg4ksEFZPw/s72-c/Bin-Abu_Jihad-1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6976143189040505183.post-5209931502068224605</id><published>2009-01-02T09:21:00.000-08:00</published><updated>2009-01-02T10:28:58.582-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Intelejen dan Islam Radikal'/><title type='text'>Intelejen dan Islam Radikal</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(mengutip tulisannya Herman Ibrahim, purnawirawan TNI AD, pengamat intelijen)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Soeharto memperoleh kekuasaan ia dihadapkan pada kondisi ideologi Nasakom hasil binaan rezim lama masih kuat dan masih dianggap sebagai sebuah ancaman besar bagi rezim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah rezim orba kemudian mengeluarkan kebijakan ideologis untuk menanganinya.Kebijakan ideologis dan politis pada masa awal orba yang itempuh adalah menghancurkan kaum komunis , menekan kaum nasionalis, dan mencegah naiknya kekuatan islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kekuatan komunis ditumpas habis ,maka kekuatan kaum nasionalis seperti PNI dilumpuhkan dengan menempatkan Hadisubeno menyingkirkan Hardi yang kritis pada pemerintah. Motor utama untuk melaksanakan kebijakan ideologis orba ini diserahkan kepada&lt;br /&gt;aparat intelejen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan setelah berhasil menuntaskan kebijakan terhadap kaum komunis dan nasionalis.Maka target selanjutnya diarahkan pada kelompok Islam. Kebijakan terhadap kelompok Islam terbilang unik dibandingkan dengan kebijakan terhadap kelompok komunis dan nasionalis.Walaupun tergabung dalam Nasakom tapi kelompok Islam memiliki peran dan jasa besar dalam menghancurkan kekuatan komunis dan meruntuhkan rezim Soekarno selain karena kenyataan bahwa mayoritas penduduk Indonesia adalah penganut agama Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu pemerintah memilih jalan yang lebih hati-hati untuk menghadapi kekuatan islam ini.Untuk mencegah naiknya kekuatan Islam maka pemerintah harus memiliki alasan dulu untuk menekankannya.Dan kemudian intelejen sebagai perpanjangan tangan pemerintah untuk melaksanakan ini kemudian memilih untuk menggunakan tangan kaum radikal Islam .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok radikal walaupun memang berbahaya tapi justru membuatnya menjadi sangat mudah dikendalikan. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Psikologi kaum radikal adalah psikologi orang marah&lt;/span&gt;, seperti yang diketahui orang marah sangat kehilangan daya nalar kritis dan akal sehatnya , sehingga bila mereka liar akan sangat tidak terkontrol sebaliknya juga mereka menjadi sangat mudah dihasut dan dibohongi sehingga menjadikannya sebagai pion yang sangat ideal karena akan mengikuti apa saja kemauan penyuruhnya sekaligus bisa dikorbankan dengan sangat mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan inilah yang sangat disadari oleh Ali Moertopo sehingga ia kemudian merekrut para mantan anggota DI/TII yang sedang dibina oleh Kodam Siliwangi.A ksinya ini ditolak oleh Kepala Bakin pada masa itu Jenderal Sutopo Juwono juga petinggi Bakin lainnya seperti Jendral Nicklany&lt;br /&gt;(yang kemudian akhirnya di dubeskan) , akan tetapi Ali Moertopo tetap pada pendiriannya dengan tetap membawa para mantan DI/TII ini ke Jakarta .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa pentolan DI/TII yang dibawa antara lain putra dari Kartosuwiryo yaitu Dodo Muhammad Darda dan Tahmid Rahmad Basuki , Adah Djaelani Tirtapraja (Ma'had Al Zaitun) , Rahmat Basuki (tersangka pengeboman BCA) , Amir Fatah , H Ismail Pranoto (Komando Jihad) , Danu Muhammad Hasan, Helmy Aminuddin (Gerakan Tarbiyah/ sekarang Ketua Majelis Syuro PKS) , Najamuddin (wolya) dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tebar , Pancing dan Jaring&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Karena tidak memperoleh dukungan dari para petinggi Bakin, Ali Moertopo pun membawa para mantan DI/TII ini dibawah pembinaan Opsus. Mereka kemudian mendapatkan fasilitas dan dukungan finansial yang sangat besar sehingga menimbulkan kemarahan sejumlah perwira ABRI pada masa itu terutama dari kalangan Siliwangi yang merasa berjasa menangkap mereka&lt;br /&gt;dengan susah payah bahkan bertaruh dengan nyawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi berkat kedekatan Ali Moertopo pada Soeharto pada masa itu maka protes-protes itu berhasil diredam.Sejumlah perwira yang menentang proyek itu pun dengan segera dimutasi dan disingkirkan. Ali Moertopo kemudian membina mereka dengan pelatihan-pelatihan intelejen,&lt;br /&gt;seperti pembentukan jaringan ,teknik perekrutan anggota ,penyamaran, pembuatan propaganda , operasi cuci otak , teknik teror dan intimidasi dan lain sebagainya (ini yang menjelaskan kenapa kelompok radikal sangat ahli dalam melakukan ini semua).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dibina mereka pun diterjunkan ke tengah masyarakat untuk menerapkan ilmunya.Dan peritiwa-peristiwa teror pun terjadi , pemboman BCA, penyerbuan kantor polisi di Cicendo , Wolya , Lampung , Borobudur dll, dimana semua peristiwa ini dilakukan oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;para mantan DI/TII binaan opsus&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aparat pun menangkapi mereka lagi bahkan sebagiannya juga dikorbankan dengan dibunuh.Tapi setelah tertangkap mereka kemudian dilepas lagi untuk melakukan aksi-aksi lainnya.Berkat peristiwa-peristiwa itu pemerintah mendapat legimitasi untuk menekan kelompok-kelompok Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah aktivis masjid di Bandung ditangkapi bahkan organisasi remaja masjid di masjid Istiqamah pun dibubarkan dengan tuduhan terlibat peristiwa Cicendo dan Wolya yang dilakukan oleh jamaah Imron yang diprovokasi oleh Najamuddin, sejumlah kyai NU di Jawa Timur ditangkapi bahkan dilenyapkan dengan tuduhan terlibat Komando Jihad yang dikomandani oleh Haji Ismail Pranoto binaan Opsus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterlibatan intelejen dalam kasus-kasus tersebut semakin kentara ketika dalam kasus persidangan Danu Mohammad Hassan misalnya, ia mengaku sebagai orang Bakin. "Saya bukan pedagang atau petani, saya pembantu Bakin."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan Danu mati secara misterius, tak lebih dari 24 jam setelah ia keluar penjara, dan konon ia mati diracun (Lihat Tempo, 24 Desember 1983)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intelejen pun bergerak lebih jauh lagi untuk memprovokasi sejumlah kelompok melakukan perlawanan yang dengan segera ditumpas dengan kejam oleh militer.Bahkan kemudian para da'i harus mempunyai surat izin untuk berceramah dan semua kegiatan dakwah harus dilaporkan dulu kepada aparat dengan alasan mencegah penyebaran paham radikal.Lalu pemerintah pun menetapkan kebijakan asas tunggal Pancasila dengan alasan untuk menekan penyebaran ideologi-ideologi yang menyimpang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah kelompok Islam yang menentang segera dibekukan, HMI pun kemudian terpecah menjadi dua dengan munculnya HMI MPO yang menolak asas tunggal, Pelajar Islam Indonesia (PII) , BKPRMI dan beberapa ormas islam lain dibubarkan.Pemerintah juga mendirikan sejumlah organisasi islam baru pendukung asas tunggal yang rata-rata dibawah binaan Golkar.Dengan demikian semua kekuatan oposisi pemerintah dari kelompok Islam berhasil dilumpuhkan dengan metode tebar, pancing jaring hasil rekayasa Ali Moertopo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Strategi Pecah Belah dan Kuasai&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Paska turunnya L.B Moerdani strategi intelejen dalam menghadapi kekuatan Islam pun berubah.Teknik tebar, pancing , jaring ala Ali Moertopo mulai ditinggalkan karena justru malahan menambah instabilitas.Strategi yang kemudian dilakukan intelejen kemudian lebih soft bahkan dibuat seolah-olah pemerintah mendukung kekuatan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa itu gerakan-gerakan alternatif di luar ormas-ormas islam dan kepemudaan islam mulai marak.Sejumlah organisasi remaja masjid tumbuh pesat di masjid-masjid raya juga masjid-masjid kampus. Sebagian kalangan aktivis muda mulai mengubah konsep dakwah mereka menjadi dakwah kultural dan berusaha membaurkan diri dengan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ini dianggap pemerintah sebagai sebuah ancaman baru. Salah satu point penting untuk menunjang kekuasaan rezim Soeharto adalah memastikan semua organisasi yang ada dan hidup di Indonesia berada dalam cengkraman dan kendali pemerintah. Bukan saja organisasi keagamaan atau politik tapi juga organisasi profesi seperti IDI atau organisasi para hobbies seperti RAPI pun dibawah kendali pemerintah dimana para pimpinannya tidak bisa naik kalau&lt;br /&gt;tidak mendapat 'restu' dari pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi organisasi-organisasi remaja masjid juga majlis-majlis taklim yang tumbuh pada masa itu tidak demikian.Organisasi-organisasi itu bersifat indenpenden dengan struktur organisasi yang cair.Akan tetapi pertumbuhan anggotanya sangat luar biasa..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Karena itulah semua organisasi dakwah "liar" itu harus segera dikontrol.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pendekatan awal pemerintah adalah berusaha menyatukan semua organisasi dakwah tersebut dalam sebuah organisasi atau perhimpunan formal dimana kemudian pemerintah bisa mengontrol melalui organisasi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pemerintah pun merestui organisasi tersebut bahkan memfasilitasinya dengan menempatkan organisasi-organisasi tersebut untuk berkantor di masjid negara Istiqlal. Akan tetapi eksperimen ini gagal, para aktivis yang berusaha menjaga jarak dengan pemerintah menolak mengikuti gagasan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetap iintelejen kemudian memiliki pemikiran lain.Kekuatan dari kelompok-kelompok dakwah tersebut harus dan bisa dimamfaatkan untuk kepentingan rezim akan tetapi mereka harus dikebiri kekuatan untuk melumpuhkan potensi ancamannya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi kalangan intelejen bila tidak mampu menundukkan sebuah kekuatan/ kelompok maka kekuatan/kelompok itu harus dimamfaatkan.Sumber ancaman terbesar dari organisasi dakwah kultural itu adalah karena mereka membaur dengan masyarakat sehingga di masa depan dapat&lt;br /&gt;berpotensi menjadikan mereka sebagai kekuatan massa yang kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebijakan 'massa mengambang' adalah doktrin utama ideologi orba untuk mencegah sebuah kelompok terlalu dekat dengan masyarakat, semua kelompok harus berada dalam 'kotaknya' masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Bakin pun memamfaatkan kembali para orang-orang binaan opsus Ali Moertopo seperti Helmy Aminuddin yang merupakan putra dari Danu Muhammad Hasan.Dengan dukungan dana yang luar biasa kemudian dikembangkanlah kelompok radikal baru bernama Jamaah Tarbiyah (kemudian berkembang pada orde reformasi Partai Keadilan dan Partai Keadilan Sejahtera) yang ide dasarnya dari ideologi Ikhwanul Muslimin sebuah kelompok radikal asal Mesir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dimulai sejak Soeripto mantan kepala staff Bakin diangkat menjadi Ketua Tim Penanganan Masalah Khusus Kemahasiswaan DIKTI/Depdikbud pada tahun 1986, gerakan tarbiyah pun mulai bergerak dibawah binaan dan pengawasan intelejen.  Dengan pembinaan dengan metode cuci otak maka secara instan kader-kader kelompok ini bisa dicetak dengan cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menunjang penyebaran ideologinya maka diterbitkanlah majalah Sabili pada tahun 1987 kemudian juga penerbitan Gema Insani Press yang menyebarluaskan paham radikal ini melalui media dan penerbitan buku buku ideologis dengan harga yang sangat murah padahal dengan mutu cetakan yang cukup mewah karena mendapat subsidi.Majalah Sabili sendiri beredar secara luas walaupun tidak dilengkapi dengan SIUPP dan dijual dengan harga hanya 600 rupiah padahal dengan mutu kertas yang bagus plus nyaris tanpa iklan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tujuan utama pembentukan kelompok ini oleh intelejen adalah menghancurkan dan melumpuhkan semua kelompok dakwah pemuda dan remaja masjid yang tidak berada dalam kontrol pemerintah lalu menyatukan semuanya dalam satu kelompok besar yang bisa dikendalikan aparat intelejen. Selain itu juga jama'ah tarbiyah juga diberi peran untuk memutus mata rantai hubungan kelompok-kelompok aktivis masjid dengan masyarakat juga dengan ormas islam lain.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan para aktivis dakwah masjid yang terbiasa dengan pola musyawarah dan penyeimbangan kekuatan tiba-tiba dikejutkan oleh aksi-aksi pengambil alihan khas intelejen dilakukan oleh aktivis jamaah tarbiyah seperti mobilisasi massa , black propaganda , penculikan aktivis , teror dan intimidasi dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ketika berhasil mengambil alih kekuasaan kelompok ini kemudian langsung melakukan aksi-aksi pembersihan dan penyeragaman.Seluruh aktivis yang tidak mengikuti kelompok mereka disingkirkan.Semua aktivitas dakwah yang berhubungan dengan masyarakat luas dihentikan demikian juga semua bentuk hubungan dengan organisasi dakwah lain dibekukan.Aktivitas masjid hanya diarahkan untuk pembinaan internal demi mencetak sebanyak-banyaknya kader militan dan radikal di masjid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok-kelompok diskusi dibubarkan dan metode pengkaderan digantikan dengan indoktrinisasi. Sebuah aktivitas yang melibatkan partisipasi masyarakat luar dihentikan.&lt;br /&gt;Pembinaan pada kalangan luar masjid seperti kalangan remaja akhirnya menjadi hanya lembar sejarah lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan silaturahmi dengan organisasi dakwah lain yang tidak 'sefikrah' dihentikan total.&lt;br /&gt;Aktivis masjid pun seketika itu menjadi sebuah komunitas yang asing bagi masyarakat.Isu-isu kemasyarakatan tidak lagi menjadi perhatian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isu masalah jenggot pun menjadi sangat pentingnya sampai akhirnya menggusur isu mengenai kenakalan remaja , isu jilbab menjadi agenda yang menjadi prioritas utama mengalahkan isu penyalahgunaan narkoba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal hubungan dengan organisasi dakwah lain pun sontak mencapai titik terendah.Kajian jamaah tarbiyah yang disebarkan kepada anggotanya mengenai kelompok dakwah lain diarahkan untuk memberi citra negatif yang dipenuhi prasangka dan kecurigaan serta paham kebencian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dengan menggunakan tangan kelompok radikal akhirnya kekuatan aktivis masjid pun dilumpuhkan total. Ketakutan utama pemerintah pada kelompok aktivis dakwah masjid pada sebenarnya adalah kemampuan mereka untuk membaur di masyarakat serta kemampuan menjalin hubungan dengan organisasi dakwah lain.Dengan dilumpuhkannya kekuatan utama&lt;br /&gt;kelompok dakwah masjid ini maka aktivis dakwah masjid tidak lagi dianggap sebagai ancaman  maka tindakan represi terhadap kelompok ini pun dilonggarkan.Ketika sebuah masjid jatuh ke tangan radikal maka intelejen pun menghentikan operasi-operasi pengawasan yang ketat pada&lt;br /&gt;mereka.Itulah sebabnya aktivitas jama'ah tarbiyah tidak pernah mendapat gangguan dari aparat pada masa itu walaupun mereka menyebar paham radikal.Dengan dikuasainya masjid-masjid oleh kelompok radikal maka peristiwa pendudukan gedung DPR RI oleh massa pemuda islam seperti pada waktu penolakan UU Perkawinan pun tidak perlu dikuatirkan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ketaatan yang kuat di kalangan jama'ah tarbiyah dan kelompok radikal islam lainnya pada pucuk pimpinannya memudahkan pemerintah untuk mengawasi dan mengendalikan kelompok-kelompok ini&lt;/span&gt;, karena dengan cukup memegang kepalanya saja maka seluruh anggotanya akan tunduk dan patuh.Paham eksklusif kelompok radikal menjadi penentu sukses penggunaan metode "pecah belah dan kuasai" kelompok-kelompok Islam dan memotong 'sayap' mereka sehingga tidak bisa lagi 'terbang' sehingga aktivis islam bagi pemerintah hanyalah sekelompok unggas saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah kelompok radikal Islam Indonesia memiliki ciri khas yang lain dari kelompok radikal islam di negara-negara lain terutama dalam hal hubungan mereka dengan miiliter dan intelejen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok-kelompok radikal islam timur tengah misalnya selalu berada dalam posisi vis a vis&lt;br /&gt;dengan militer dan intelejen. Sementara kelompok radikal Islam Indonesia justru sebaliknya  mereka justru bermesraan dengan militer dan intelejen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditempatkannya mantan kepala staff Bakin menjadi pucuk pimpinan PKS sebuah partai yang didirikan jamaah tarbiyah dan kecenderungan pemihakan pada kandidat presiden dari militer memperlihatkan dengan jelas siapa sebenarnya mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tapi sungguh disayangkan para pion ini tidak pernah sadar bahwa dirinya cuma pion.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6976143189040505183-5209931502068224605?l=intel-islam-radikal.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://intel-islam-radikal.blogspot.com/feeds/5209931502068224605/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://intel-islam-radikal.blogspot.com/2009/01/intelejen-dan-islam-radikal.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6976143189040505183/posts/default/5209931502068224605'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6976143189040505183/posts/default/5209931502068224605'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://intel-islam-radikal.blogspot.com/2009/01/intelejen-dan-islam-radikal.html' title='Intelejen dan Islam Radikal'/><author><name>abasyah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06239836891963840643</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_3-hb0NT8tZk/R7r8YpiOtAI/AAAAAAAAAFw/-CUxsux8d9E/S220/images.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry></feed>
